DPAD Yogyakarta

OLEH-OLEH DARI JEPANG BAGIAN KEEMPAT

 Opini  16 January 2014  Super Administrator  2741
OLEH-OLEH DARI JEPANG BAGIAN KEEMPAT

OLEH-OLEH DARI JEPANG

Suatu pengalaman ketika ditugaskanke Kyoto Jepang selama seminggu

Oleh :AlipSudardjo

BAGIAN KEEMPAT

 

Perpustakaan di Kyoto

Pada kunjungan  beberapa kampus di Jepang kami senantiasa melihat kondisi perpustakaannya untuk mengetahui seberapa besar perhatian pihak pengelola kampus terhadap fasilitas Perpustakaan yang dikelolanya.  Pada umumnya tidak jauh berbeda antara Perpustakaan kampus-kampus di Kyoto dengan Perpustakaan perguruan tinggi yang ada di Indonesia, suasana tenang, nyaman dan koleksinya relative lengkap dan ditunjang dengan Teknologi Informasi yang memadai.   Pada saat kami berkunjung ke Jepang  baru saja terjadi bencana yang menyebabkan instalasi  jaringan listrik bertenaga nuklir yang cukup besar terhantam Tsunami maka pasokan listrik di beberapa daerah menjadi terganggu, sebagai konsekuensinya semua  kantor termasuk kampus dihimbau untuk menghemat penggunaan listrik tak terkecuali kampus-kampus, oleh karena itu ruangan yang banyak menggunakan listrik seperti ruangan ber AC dan sebagainya kalau tidak diperlukan listrik dipadamkan, orang Jepang disiplin dengan himbauan tersebut.  Satu per satu kami amati ruangan-ruangan Perpustakaan tersebut, mulai dari layanan  di front office tak jauh berbeda dengan Perpustakaan kita, ruang layanan hanya dijaga oleh sedikit petugas untuk memberikan layanan kepada pemustaka dalam suasana yang tenang dan nyaman, kemudian kami melangkah ke ruang baca umumnya ruang baca terbagi minimal 2 (dua) kategori yaitu ruang baca individual yang memerlukan ketenangan untuk masyarakat yang memang membutuhkan suasana tenang dilengkapi dengan bangku yang tersekat setinggi orang duduk sehingga antar pemustaka bisa konsentrasi atau focus pada buku yang mereka baca. Sebagaimana kondisi di Indonesia ataupun di Yogyakarta bahwa koleksi pustaka umumnya ditulis dalam huruf Jepang, tidak begitu banyak buku-buku dalam bahasa asing kecuali untuk Perpustakaan pada fakultas bahasa.  Kategori berikutnya adalah ruang baca terbuka, ruang ini terbagi 2 (dua) yaitu bangku-bangku untuk meletakkan buku yang sedang dipinjam dan ruang untuk  akses internet secata umum.  Selanjutkan kami menuju pada ruang deposit , sebagaimana penataan ruangan deposit juga tidak jauh berbeda dengan Perpustakaan-perpustakaan kita namun ada yang menarik dari koleksi deposit di salah satu perguruan tinggi di Kyoto yaitu surat dari presiden Abraham Lincoln kalau tidak salah tersimpan rapi di salah satu sudut ruangan ditempatkan di almari kaca.

 image

Lain di Indonesia lain pula di Jepang, pengunjung Perpustakaan atau pemustaka di Indonesia ada ketentuan harus rapi apalagi Perpustakaan perguruan tinggi, maka pemandangan yang layak kita lihat adalah para pemustaka selalu menggunajan celana panjang, baju atau kaos yang yang ada krahnya serta bersepatu.  Di beberapa tempat apabila tidak mengenakan ketentuan tersebut tidak diperkenankan untuk masuk, sedang di Jepang pengunjung Perpustakaan atau pemustaka/mahasiswa dalam pakaian Nampak sangat santai sekali, menggunakan kaos, celana pendek bahkan juga mengenakan sandal.

 image

Penataan buku-buku koleksi nampaknya juga tidak jauh berbeda di Indonesia, buku ditata berdasarkan subyeknya, namun karena menggunakan huruf Jepang kami tidak begitu tahu artinya.  Orang Jepang tingkat kepercayaan dirinya cukup kuat dan tidak mudah bergantung kepada Negara lain, oleh karena itu naskah-naskahpun banyak yang menggunakan huruf dan bahasa mereka sendiri, konon buku-buku dari luar negeri diterjemahkan ke dalam bahasa mereka kemudian diterbitkan untuk koleksi Perpustakaan.   Jepang memang lebih banyak eksport dibandingkan importnya, terutama untuk barang elektronik, manufaktur dan barang-barang pabrikan lainnya.  Income per capita mereka  cukup tinggi dan devisa Negara juga tinggi.

 image

 image

Sebagaimana menjadi budaya di Jepang bahwa segala sesuatu tampak bersih, rapi, teratur  dan nyaman, maka suasana di Perpustakaan sekalipun pengunjungnya bebas berpakaian tetapi suasana tetap tenang, nyaman  dan mereka  focus pada kegiatan membaca maupun akses pengetahuan lewat internet.

Opini Lainnya

Istansi , Perlu Menangani Arsip Media Baru Istansi , Perlu Menangani Arsip Media Baru
 20 July 2011  3879

Istansi , Perlu Menangani Arsip Media Baru Oleh : Anna N. Nuryani, Dra  Penyelenggaraan  kearsipan sehari-hari di Instansi,...

PENGEMBANGAN POTENSI DIRI PUSTAKAWAN MELALUI KETRAMPILAN KOMUNIK PENGEMBANGAN POTENSI DIRI PUSTAKAWAN MELALUI KETRAMPILAN KOMUNIK
 20 July 2011  5214

Pustakawan sebagai individu memiliki potensi diri yang dapat dikembangkan secara optimal. Pengembangan diri ini dapat terlaksana...

ANTARA JOGJA DAN KYOTO ANTARA JOGJA DAN KYOTO
 18 April 2012  3574

Tentu saja bukan sekedar mensejajarkan nama dua kota yang berada di dua negara. Bukan juga untuk membanding-bandingkan secara...

From Sister Province to Sister Libraries: Sebuah Kesempatan Kerj From Sister Province to Sister Libraries: Sebuah Kesempatan Kerj
 10 May 2012  3135

Tanggal 25 Oktober 2010 menjadi momen bersejarah bagi Provinsi DIY dan Kyoto Prefecture. Peringatan 25 tahun kerjasama antara...