DPAD Yogyakarta

Laporan Perusahaan Perkebunan Medarie 1931

 Buku  13 December 2022 10:12 WIB  Hendrikus Franz Josef, M.Si  70

Jika link video di atas error tidak bisa diputar, mohon klik link video di bawah ini. Untuk membacanya dengan cara klik logo tulisan YOUTUBE

di kanan bawah, lalu hentikan video saat membacanya. selamat menyimak....;).

Als de bovenstaande foutvideolink niet kan worden afgespeeld, klik dan op de onderstaande videolink. Om het te lezen door op het YOUTUBE-schrijflogo te klikken

rechtsonder en pauzeer de video tijdens het lezen. veel luisterplezier... ;).

====================================





Berkembangnya perdagangan gula di dunia menjadikan VOC ikut berdagang yaitu dengan melakukan ekspor komoditi gula ke Eropa. Pada awalnya berhasil ekspor gula kira-kira 10 ribu pikul atau setara 625 ribu kg per tahun. Perdagangan gula itu terus berkembang dan justru kemudian berbanding terbalik dengan kondisi kongsi dagangnya (VOC) yang terus mengalami kemerosotan dan bangkrut pada tahun 1799 M. Bangkrutnya kongsi dagang tersebut menjadikan kendali dagang dan penguasaan wilayah diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada saat Jawa digoncang konflik yaitu dengan adanya Perang Dipanegara atau Perang Jawa (1825 M–1830 M), Hindia Belanda di bawah van der Capellen mengalami defisit anggaran yang sangat parah. Kondisi uang habis karena digunakan untuk perang, yaitu mengatasi perlawanan Dipanegara. Kondisi itu akhirnya menjadikan Gubernur Jenderal Johanes van den Bosch berusaha mengatasi kebangkrutan dengan menjalankan kebijakan Tanam Paksa (cultuurstelsel) pada 1830–1870 M (Niel, 2003: 77). Di samping itu, melakukan pengambilalihan tanah di beberapa kabupaten wilayah Kedu, Magelang, dan sebagian Banyumas dari Kasultanan Yogyakarta.