DPAD Yogyakarta

Asthabrata: Figur Pemimpin Ideal

 Artikel Perpustakaan  3 July 2012  Super Administrator  6312

Asthabrata: Figur Pemimpin Ideal

 Oleh: Titi Mumfangati [1]

Pengantar

Dalam kehidupan bermasyarakat ataupun berorganisasi tidak lepas dari adanya pihak yang memimpin dan pihak yang dipimpin. Setiap kelompok masyarakat maupun organisasi sudah pasti ada pemimpin, baik secara formal maupun non formal. Berhasil atau tidaknya suatu kelompok organisasi ditentukan oleh berbagai faktor, di antaranya bagaimana figur pemimpinnya. Pemimpin yang baik dan ideal akan mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi. Di dalam masyarakat mana pun kepemimpinan merupakan hal yang pokok yang ikut menentukan jalannya suatu organisasi.

Secara definisi kata pemimpin berarti orang yang memimpin, [n] (1) orang yg memimpin: ia ditunjuk menjadi ~ organisasi itu; (2) petunjuk; buku petunjuk (pedoman): buku ~ montir mobil (http://kamus bahasaindonesia.org/). Pemimpin adalah orang yang memiliki keterampilan teknis dalam bidang tertentu, sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas demi tercapainya tujuan organisasi. Pemimpin diharapkan mampu membina bawahannya menjadi mahir,  bersemangat, bergairah dalam bekerja, loyal, dan berbudi pekerti luhur.  

Pemimpin adalah sosok yang mempunyai kemampuan atau skills untuk mengarahkan, mengatur, menggerakkan, dan mengantar orang atau masyarakat yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin adalah individu yang mampu mengoptimalkan segala sumber daya atau sarana dan prasarana yang ada untuk mencapai tujuan bersama. Lahirnya seorang pemimpin dipengaruhi oleh perkembangan peradaban manusia. Pada masa awal peradaban, sosok pemimpin dilahirkan/dibutuhkan sebagai pelindung dari bahaya fisik. Dalam hal ini “otot” yang berupa kekuatan dan kesaktian. Makin sakti dan kuat seseorang pada zaman itu, makin besar pula peluang dia untuk menjadi pemimpin ketika itu. Namun, pada zaman modern saat ini, “otot” tidak semata – mata menjadi faktor penentu seseorang untuk bisa menjadi pemimpin. Faktor non fisik dari pemimpin juga menjadi pertimbangan, seperti bagaimana pemimpin itu mampu menciptakan suasana nyaman bagi masyarakat yang dipimpinnya, bagaimana sang pemimpin mampu menjaga keharmonisan serta menjaga kehormatannya sebagai seorang pemimpin (Isa, 2011).

Kondisi Masyarakat Desawa Ini

Dewasa  ini banyak berita tentang aksi demonstrasi yang mengecam tata pemerintahan dan politik yang berlangsung di Indonesia. Banyak komentar negatif tentang kualitas pemimpin di Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan sosok pemimpin yang mampu membuat Indonesia menuju situasi dan kondisi yang lebih baik. Seperti apa figur pemimpin ideal itu?

Berdasarkan pengalaman dan perjalanan sejarah telah terbukti bahwa peran seorang pemimpin sangat penting dalam menentukan perjalanan organisasi, masyarakat, bangsa, dan negara yang dipimpinnya. Pemimpin memiliki andil yang sangat besar dalam menentukan arah dan jalannya kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang dipimpinnya. Tipe atau gaya kepemimpinan seorang pemimpin mempengaruhi maju mundurnya suatu masyarakat, bangsa, dan negara. Bisa dipastikan, tanpa seorang pemimpin yang tangguh dan berwibawa, sulit dibayangkan suatu masyarakat, bangsa dan negara bergerak maju menuju cita–citanya (Wijaya, 2011).

Belakangan ini, terjadi krisis kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap para pemimpin mereka. Banyak pemimpin yang terkena kasus-kasus yang tampaknya merupakan hal yang kurang pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Kasus KKN,   kriminal, korupsi, dan hal-hal lainnya. Selain itu, yang menjadi alasan adalah banyak pemimpin yang tidak setia pada janji mereka ketika masih berstatus sebagai calon pemimpin atau ketika berkampanye. Mungkin ketika mereka berkampanye, mereka berjanji A terhadap masyarakat yang kelak akan dipimpinnya, namun ketika sudah menjadi pemimpin. Hal ini tentu sangat mengecewakan masyarakat yang telah memilihnya untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk itu, diperlukan suatu penanaman nilai-nilai kepemimpinan kepada para pemuda sebagai calon pemimpin bangsa agar nantinya ke depan mereka bisa menjadi pemimpin yang tangguh, berwibawa dan mampu menghilangkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin (Wijaya, 2011). Dengan demikian, diharapkan ke depan Indonesia akan menjadi lebih baik secara ketatanegaraan dan kemasyarakatan.

Pemimpin Ideal Menurut Asthabrata

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, dunia pewayangan menjadi salah satu sumber pendidikan  budi pekerti dan budaya. Pewayangan menyajikan kisah-kisah yang dapat dijadikan contoh dan pendidikan. Dalam kisah-kisah pewayangan ini banyak tersirat berbagai filsafat kehidupan, termasuk filsafat kepemimpinan. Cerita yang diangkat sebagai lakon dalam pagelaran wayang yang menampilkan filsafat kepemimpinan adalah dalam kisah Ramayana.

Dalam rangkaian cerita tentang Ramayana ini ada satu bagian penting yang menguraikan tentang Asthabrata. Pada bagian ini Rama menyampaikan kepada adiknya, Bharata, ajaran mengenai kepemimpinan. Rama menguraikan dasar-dasar kepemimpinan kepada Bharata pada saat Bharata akan menjadi raja di Ayodya. Pada saat itu, Bharata belum begitu yakin, apakah ia akan mampu memimpin kerajaan dengan  baik. Bharata meminta nasihat kepada Rama  bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Bharata sebagai putra yang lebih muda merasa tidak berhak akan tahta kerajaan, namun Rama tetap memaksanya untuk menjadi raja. Mulanya Bharata berkeras membujuk Rama untuk naik tahta, karena ia tahu kakaknya tersebutlah yang paling berhak dan pantas menjadi raja. Rama tetap keras dengan keputusannya untuk melaksanakan janji ayahandanya kepada Dewi Kekayi menjalani masa pengasingannya bersama Dewi Shinta dan Laksmana.

Ajaran kepemimpinan yang terdapat dalam cerita Ramayana itu terkenal dengan  istilah Asthabrata.  Astha berarti wolu (delapan), sedangkan brata berarti prasetya (kesetiaan) (Poerwadarminta, 1399: 21, 59). Asthabrata adalah delapan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin berdasarkan sifat atau watak delapan dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Candra, Bhayu, Kuwera, Baruna, dan Agni. Dari delapan dewa maka dikenal istilah Asthabrata, yaitu sifat, watak, atau perilaku delapan dewa.

Dewa Indra  mempunyai sifat mengusahakan atau menciptakan kemakmuran bagi rakyat atau masyarakat. Karenanya, seorang pemimpin harus mampu mengusahakan atau menciptakan kemakmuran bagi rakyat atau masyarakat. yang dipimpinnya. Yama adalah dewa yang mampu menegakkan keadilan atau dewa hukum. Jadi seorang pemimpin harus mampu bersikap adil kepada semua orang yang dipimpinnya, tidak boleh membeda-bedakan golongan, suku, atau agama. Selain itu juga harus bersifat objektif, tanpa dibarengi kepentingan tertentu. Intinya seorang pemimpin harus mampu menegakkan keadilan. Dewa Candra berarti dewa bulan. Sifat bulan adalah mampu memberikan penerangan yang menyejukkan, artinya seorang pemimpin haruslah mampu memberikan kesejukan/kenyamanan bagi masyarakatnya sehingga masyarakat akan merasa tenteram di bawah kepimpinannya. Dewa Surya berarti dewa matahari. Matahari adalah sumber energi yang utama dan terpenting bagi kehidupan di alam semesta ini, seorang pemimpin harus mampu memberikan kekuatan serta semangat bagi bawahannya. Dewa Bayu  adalah dewa angin. Seorang pemimpin harus selalu berada di tengah–tengah masyarakatnya agar selalu mengetahui segala hal yang terjadi serta kondisi masyarakatnya. Dewa Kuwera mengajarkan kepada seorang pemimpin agar selalu menyejahterakan masyarakat. Dewa Baruna adalah dewa lautan. Jadi seorang pemimpin harus memiliki wawasan yang luas seperti luasnya lautan dalam memimpin rakyatnya. Wawasan luas akan menjadi dasar bagi kearifan seorang pemimpin untuk menangani setiap permasalahan. Dewa Agni dimaksudkan bahwa seorang pemimpin harus mampu menggelorakan dan mengobarkan semangat masyarakat yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan bersama.

Begitu terkenalnya ajaran Asthabrata ini dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, sampai-sampai banyak sekali diabadikan dalam naskah-naskah Jawa oleh para pujangga masa lampau. Naskah kuno berjudul Asthabrata Winedhar atau Serat Astha Lokapala koleksi Perpustakaan Radya Pustaka Surakarta dengan nomor koleksi 33175, sebagai contohnya, menceritakan tentang karakter delapan dewa beserta ajaran tentang spiritualitasnya (Girardet, 1983: 555). Naskah kuno yang disimpan di Perpustakaan Pakualaman juga ada yang menguraikan Asthabrata yaitu Serat Asthabrangta dalam dua kumpulan judul yaitu naskah kuno dengan nomor koleksi 54125 dan 58600. Ada juga yang dalam judul Asthabrata yaitu naskah nomor koleksi 54115 (Girardet, 1983: 741, 765).

Nilai-nilai Asthabrata ini secara tersirat juga dikutip dalam Serat Nitipraja, yang secara garis besar menyebutkan tentang sifat bijak seorang raja atau pemimpin yaitu bahwa apabila seorang raja mengingkari atau melupakan semua itu, rakyat akan jauh dari raja. Seorang raja harus memperhatikan etika atau tata cara apabila sedang dihadap oleh rakyatnya (siniwaka). Sebagai seorang raja harus menguasai yang kasar dan yang halus, yang kasat mata dan yang tidak tampak oleh mata. Raja harus arif bijaksana, faham segala gerak-gerik kehidupan. Raja yang hina akan dimusuhi oleh raja-raja tetangga (Mumfangati, 2011:39). Secara tersirat raja atau pemimpin diwajibkan memiliki sifat-sifat yang merupakan sifat yang dimiliki oleh para dewa, khususnya delapan dewa (Asthabrata) tersebut.

Jika sifat-sifat kepemimpinan dari Asthabrata dimiliki oleh semua pemimpin masa kini, maka diharapkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin tidak akan terjadi. Jangan sampai para pemimpin yang meninggalkan ajaran-ajaran kepemimpinan ini. Pemimpin zaman sekarang sedikit yang memiliki sifat seperti Dewa Indra. Pemimpin zaman sekarang kurang mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya, justru berusaha untuk memakmurkan dirinya sendiri. Banyak pemimpin melakukan praktek KKN untuk mensejahterakan dirinya serta kerabatnya, sedangkan rakyat yang dipimpinnya menderita. Para pemimpin  kebanyakan belum memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran ini. Sering terjadi praktek penyalahgunaan kekuasaan serta jalan menyimpang dalam banyak kasus. Para pemimpin  juga  sangat jarang yang melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kebanyakan sibuk dengan pekerjaan yang bersifat pribadi dan mencari kemudahan, sepeti wisata dan liburan ke luar negeri. Hal ini sudah tentu penyimpangan terhadap ajaran Asthabrata yang mewajibkan seorang pemimpin untuk selalu berada di tengah-tengah masyarakat serta memikirkan kepentingan rakyat yang menderita. Dengan melihat kenyataan yang sedemikian rupa tentang para pemimpin kita, peristiwa krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin pada zaman sekarang ini nampaknya menjadi suatu hal yang wajar dan tidak perlu disalahkan.

Nilai–nilai Kepemimpinan sebagai Aset Budaya Bangsa

Dengan melihat kondisi masyarakat saat ini, maka nilai-nilai kepemimpinan menjadi hal yang sangat penting untuk dikemukakan. Nilai-nilai kepemimpinan menjadi asset penting bagi bangsa Indonesia untuk mendapatkan figur-figur pemimpin yang ideal kelak kemudian hari. Oleh karena itu, sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan itu kepada generasi muda sebagai generasi penerus bangsa.

Menanamkan nilai–nilai kepemimpinan Asthabrata kepada generasi muda dapat dilakukan melalui berbagai bidang, salah satunya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara formal dan informal. Secara informal, peran orang tua memegang peranan yang penting. Misalnya mendidik anak untuk hidup mandiri, jujur, dan tidak terlalu ketergantungan kepada orang lain. Orang tua dianjurkan untuk tidak terlalu  memanjakan anak sebagai upaya yang sangat berarti untuk melatih seorang anak untuk menjadi pemimpin. Dengan demikian, diharapkan kelak dia akan bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu. Seorang pemimpin, sebelum memimpin orang lain harus bisa memimpin dirinya sendiri secara benar. Setelah anak bisa hidup mandiri (memimpin dirinya sendiri) maka orang tua akan dengan mudah mengajarkan anak untuk memimpin orang lain dalam contoh-contoh perbuatan kecil, misalnya memimpin doa sebelum makan, mengatur waktu untuk belajar dan bermain, mengajari cara bergaul yang benar dengan orang lain. Diharapkan nantinya ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, sifat-sifat sebagai calon pemimpin ideal telah tertanam  dalam dirinya.

Usaha yang bersifat formal untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dapat diupayakan oleh pihak pendidik dan pemerintah. Pendidik perlu mengajarkan kepada siswa cara memimpin teman dengan baik, misalnya dalam tugas kelompok, belajar bersama, organisasi intern di sekolah. Upacara bendera juga menjadi media yang tepat untuk mendidik anak melakukan praktek memimpin dengan baik, misalnya sebagai komandan upacara, pengibar bendera, memimpin menyanyikan lagu, dan sebagainya. Pergantian siswa yang memimpin acara doa bersama sebelum memulai dan mengakhiri pelajaran dan lain-lain, dapat memberikan kontribusi besar untuk menanamkan jiwa kepemimpinan kepada generasi muda ketika dia masih bersekolah. Kemudian peran pemerintah adalah dengan mulai menggagas sebuah kurikulum untuk mengalokasikan agar diadakan mata pelajaran atau mata kuliah tentang kepemimpinan (leadership) di bangku sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi. Dengan demikian mata pelajaran sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi ada mata pelajaran yang khusus tentang kepemimpinan.

Penutup

Bagi masyarakat Jawa, ajaran Asthabrata ini telah diterapkan sejak jaman dahulu kala, terutama sejak masa kerajaan-kerajaan masih berdiri di nusantara seperti Majapahit, Demak, Mataram, pada saat mengalami masa kejayaannya. Ajaran ini digunakan sebagai dasar kepemimpinan agar raja atau pemimpin memahami arti ajaran tersebut dan mampu membawa rakyat yang dipimpinnya menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Nilai-nilai kepemimpinan berdasarkan Asthabrata terbukti membawa masa-masa kejayaan pada kerajaan-kerajaan besar di nusantara. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila masyarakat sekarang dapat menggunakannya pada masa kini. Apabila apa yang tersirat dalam ajaran Asthabrata dapat diterapkan oleh para pemimpin negara di masa sekarang tentunya kondisi  Indonesia akan menjadi lebih baik. Marilah kita mulai penerapan ajaran Asthabrata pada lingkungan dan lingkup kecil di sekitar kita masing-masing, dengan harapan kelak akan tumbuh pemimpin-pemimpin bijak dan ideal di masa mendatang.

Daftar Pustaka

Girardet,  N., dkk.

1983   Descriptive Catalogue of the Javanese Manuscripts and Printed Books in the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta. Jakarta: Penerbit Steiner Verlag.

 http://kamusbahasaindonesia.org/pemimpin

Isa, MB

2011          “Asta Brata:Filsafat Kepemimpinan Dalam Pewayangan.” http://www.satuuntukindonesia.com/2011/05/asta-bratafilsafat-kepemimpinan-

 Mumfangati, T.

2011     “Figur Pemimpin dalam Serat nitipraja,” dalam Buletin Sangkakala. Edisi Ke-Sebelas Tahun 2011.

 Poerwadarminta, W.J.S.

1939    Baoesastra Djawa. Batavia: Penerbit J.B. Wolters Wijaya, IKB

20112011    Menanamkan Nilai-Nilai Kepemimpinan.” http://kem.ami.or.id/ 2011/10/menanamkan-nilai-nilai-kepemimpinan/



[1] Staf peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta. E-mail: titimumfangati@gmail.com.

Artikel Perpustakaan Lainnya

ALI AFFANDI DALAM LINGKUNGAN KELUARGA DAN MASYARAKAT KAMPUNG KAU ALI AFFANDI DALAM LINGKUNGAN KELUARGA DAN MASYARAKAT KAMPUNG KAU
 15 January 2014  2206

Pada tanggal 2 Februari 1921 berbahagialah keluarga H. Joned Siradj dan Siti Sar’ah suami isteri yang mendapat anugerah dari...

Pembuatan Kertas Kerja Perpustakaan Pembuatan Kertas Kerja Perpustakaan
 8 May 2018  370

Kertas kerja adalah salah satu model aktifitas pengusulan atas perbaikan yang diharapkan mampu mengimbangi perubahan yang...

GEREJA KATOLIK SANTO ANTONIUS KOTABARU GEREJA KATOLIK SANTO ANTONIUS KOTABARU
 28 December 2013  3687

Sejarah Singkat          Gereja Katolik Santo Antonius Kotabaru (Nieuw Wijk Katholieke Kerk) terletak di Jalan Abu Bakar...

KELUARGA SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN KELUARGA SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN
 16 January 2014  2215

Di dalam paedagogik dikatakan bahwa pendidikan seseorang atau pendidikan individual itu berlaku di dalam keluarga, sedangkan...